Selasa, 29 Mei 2012

al-quran

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
        Seluruh ajaran islam pada intinya bersumber kepada wahyu Allah SWT. yang termaktub dalam Al-Quran, serta diturunkan  kepada Nabi Muhammad SAW., secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan  22 hari. Al-Quran diturunkan dengan bahasa arab dan bukan berarti Al-Quran hanya diperuntukkan bagi bangsa Arab, melainkan diperuntukkan bagi seluruh umat manusia tanpa mengenal ras atau suku, keturunan, warna kulit, bangsa dan bahasa.
        Al-Quran sebagai pedoman yang abadi mempunyai tiga jenis petunjuk bagi manusia. Pertama, ajaran tentang susunan alam semesta dan posisi manusia di dalamnya. Disamping itu pula ada ajaran yang terkait dengan akhlak atau moral, sejarah  serta hukum yang mengatur kehidupan sehari-sehari. Kedua
 Al-Quran berisi ringkasan sejarah manusia, rakyat biasa, raja-raja, orang-orang suci, para nabi sepanjang zaman dan segala cobaan yang menimpa mereka. Meskipun petunjuk itu berup sejarah, sebenarnya ditujukan pada jiwa manusia yang hidup dizaman sekarang dan zaman yang akan datang. Ketiga, Al-Quran berisi tentang sesuatu yang sulit dijelaskan dalam bahasa modern.
        Dengan demikian, sumber nilai atau ajaran dalam islam meliputi: 1) Al-Quran 2) Hadits atau Sunnah 3) Ijtihad para ulama’ yang di dalamnya ada Ijma’, Qiyas, Istihsan, Maslahah Murshalah, Saddud Dzari’ah, Istishab, dan Urf.
B.     Rumusan Masalah
1.    Pengertian Al-Quran
2.    Fungsi Al-Quran
3.    Isi Kandungan Al-Quran
C.    Tujuan   
1.    Menjelaskan Pengertian Al-Quran
2.    Menjelaskan Fungsi Al-Quran
3.    Menjelaskan Isi Kandungan Al-Quran

BAB II
KAJIAN MATERI
A.    Pengertian Al-Quran
        Secara Etimologi Al-quran adalah bentuk mashdar dari kata qara’a (قرء), sewazan dengan kata fu’lan (فعلان), artinya: bacaan atau kajian, mengumpulkan atau menghimpun. Dalam pengertian ini, kata Al-Quran berarti مقرؤ , yaitu isim maf’ul (objek) dari قراء . Hal ini sesuai dengan firman Allah:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ .فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ
Artinya:”sesungguhnya atas tanggungan Kammilah mengumpulkannya (di dadamu) dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaan itu.”(QS. Al-Qiyamah: 17-18)
        Kata “Quran” digunakan dalam arti sebagaimana kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bila di lafadkan dengan menggunakan alif-lam berarti untuk keseluruhan apa yang dimaksud dengan Quran, sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
Artinya:” Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)
        Al-Quran disebut juga al-kitab sebagaimana firman Allah SWT:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:” Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 2)
        Adapun secara terminologi adalah firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (melalui malaikat Jibril) untuk di sampaikan kepada seluruh umat manusia dan merupakan ibadah bagi yang membacanya. Akan tetapi, banyak pula yang berpendapat sebagai berikut:
1.    Menurut Syaltut, Al-Quran adalah “lafad arabi yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, dinukilkan kepada kita secara mutawatir.”
2.    Al-Syaukani mengartikan Al-Quran dengan “kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir.”
3.    Definisi Al-Quran yang dikemukakan Abu Zahrah adalah “kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.”
4.    Menurut Al-Sarkashi, Al-Quran adalah “kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ditulis dalam mushaf, diturunkan dengan huruf yang tujuh yang masyhur dan dinukilkan secara mutawatir.”
5.    Al-Amidi memberikan ta’rif Al-Quran “Al-Kitab adalah Al-Quran yang diturunkan.”
6.    Ibn Subki mendifinisikan al-Quran “ lafad yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, mengandung mu’jizat setiap suratnya, yang beribadah membacanya.”
        Jadi dari pengertian di atas bias ditarik rumusan tentang definisi Al-Quran yaitu: “lafadz berbahasa arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukilkan secara mutawatir.” Bahkan adapula wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW tidak di muat dalam Al-Quran atau tidak dinamakan Al-Quran, melainkan disebut dengan Hadits Qudsi atau hadits Rabbani atau Hadits Ilahi. Yang dimaksud dengan Hadits Qudsi adalah sesuatu yang dikabarkan Allah SWT kepada Nabi dengan melalui ilham atau mimpi, kemudian Nabi menyampaikan makna dari ilham atau mimpi tersebut dengan ungkapan kata Nabi sendiri.
        Begitu juga, penamaan kitab suci Al-Quran langsung diberikan aleh Allah SWT ., melalui wahyu-Nya. Seperti terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 185, QS. Al-An’am: 19, QS. Thaha: 2, QS. Asy-Syura: 7 dan Al-Hasyr: 21. Al-Quran yang menjadi sumber nilai dan norma umat islam itu terbagi kedalalm 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat, 74499 kata atau 325345 huruf. Sehingga semenjak diturunkannya Al-Quran mulai dari dahulu sampai sekarang bahkan hingga akhir zaman tidak akan mengalami perubahan sedikitpun, tetap terjaga kemurnian dan keasliannya (otentitasnya). Seperti firaman Allah SWT :
 إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
    Artinya:” Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
            Awal turunnya Al-Quran juga bersamaan dengan diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul Allah SWT dalam usianya 40 tahun, Al-Quran turun ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkhalwat di Gua Hira’ pada malam Senin tanggal 17 Ramadhan tahun pertama 13 tahun sebelum Hijrah yang bertepatan dengan 6 Agustus 610 M. malam peristiwa itu dinamakan dengan malam Lailatul Qadar atau Nuzulul Quran.
        Ayat yang pertama kali turun adalah lima ayat, yaitu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ.
Artinya:” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”(QS. Al-‘Alaq: 1-5)
        Ayat yang terakhir yang diturunkan dipadang Arafah, ketika Nabi berusia 63 tahun pada hari Jum’at tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah atau pada bulan Maret tahun 632 M, Nabi melaksanakan ibadah yang disebut ibadah Haji Wada’. Sebab 81 hari setelah melaksanakan ibadah haji, ayat diatas turun dan Nabi Muhammad wafat, yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 11 H, bertepatan dengan tanggal 8 Juni tahun 632 M.
        Ayat-ayat Al-Quran yang diturunkan selama lebih kurang 23 tahun dan sesuai dengan tempat kehidupan Rasulullah SAW dapat di bedakan menjadi dua periode, yaitu: pertama ayat-ayat yang di turunkan ketika Nabi masih bermukim di Kota Mekah (sebelum hijrah) selama 12 tahun 13 hari. Kedua ayat-ayat yang di turunkan ketika Nabi telah hijrah ke Kota Yatsrib (Madinah), walaupun ayat-ayat itu ada yang turun tidak di Kota Madinah.
        Ciri-ciri dari ayat Makkiyah dan Madaniyah, yaitu:
1.    Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya pendek-pendek, merupakan 19/30 dari seluruh isi Al-Quran, terdiri dari 86 surat, 4780 ayat. Ayat-ayat Madaniyahpada umumnya panjang-panjang, merupakan 11/30 dari seluruh isi al-Quran, terdiri dari 28 surat, 1456 ayat.
2.    Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya berisi mengenai tauhid yakni keyakinan pada Kemaha Esaan Allah SWT , hari kiamat, akhlak dan kisah-kisah umat manusia di masa lalu, sedang ayat-ayat Madaniyah memuat soal-soal hukum, keadilan, masyarakat dan sebagainya.
3.    Ayat-ayat Makkiyah di mulai dengan kata-kata yaa ayyuhannas (hai manusia) sedang ayat-ayat Madaniyah di mulai dengan kata-kata yaa ayyuhal ladzina amanu (hai orang-orang yang beriman).
4.    Ayat-ayat Makkiyah di turunkan selama 12 tahun 13 hari, sedang ayat-ayat Madaniyah selama 10 tahun, 2 hari, 9 hari. 
            Suatu keluarbiasaan Al-Quran yang terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6666 ayat, bahwa sejak turunnya kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga menyusul zaman Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali, serta banyak para sahabat atau umat islam lainnya yang mengahafal Al-Quran dengan rapi dan teliti. Oleh karena itu, Al-Quran menjadi sumber seluruh ajaran islam dan ajaran-ajarannya selalu sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan manusia dalam kehidupannya dengan tidak mengenal ras, suku, bangsa, dan bahasa serta tidak mengenal batas ruang dan waktu.
B.     Fungsi dan Tujuan turunnyan Al-Quran
            Al-Quran sebagai wahyu Allah SWT yang di turunkan, kepada Nabi Muhammad SAW untuk di sampaikan kepada umat manusia bagi kemaslahatan dan kepentingan mereka, khususnya umat mukminin yang percaya akan kebenarannya. Kemaslahatan itu bisa berupa mendatangkan manfaat atau keberuntungan, maupun melepaskan manusia dari kemudaratan atau kecelakaan yang menimpanya.
            Fungsi turunnya Al-Quran kepada umat manusia terlihat dalam ayat-ayat sebagai berikut:
1.    Sebagai hudan (هدى) atau petunjuk bagi kehidupan umat. Fungsi hudan ini banyak sekali terdapat dalam Al-Quran, lebih dari 79 ayat, seperti dalam firman Allah SWT :
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
            Arrtinya:” Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)
2.    Sebagai rahmat (رحمة) atau keberuntungan yang diberikan Allah SWT dalam bentuk kasih sayangnya. Al-Quran sebagai rahmat untuk umat ini, tidak kurang dari 15 kali disebutkan dalam Al-Quran, seperti dalam firman-Nya:
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ. هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ.
        Artinya:” Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.”
3.    Sebagai furqan (فرقان) yaitu pembeda antara yang baik dengan yang buruk; yang halal dengan yang haram; yang salah dengan yang benar; yang indah dengan yang jelek; yang dapat dilakukan dengan yang dilarang. Fungsi Al-Quran sebagai pemisah ini terdapat dalam 7 ayat. Seperti dalam firman Allah SWT :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
        Artinya:” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”
4.    Sebagai mau’idzah (موعظة) atau pengajaran yang akan mengajar dan membimbing umat dalam kehidupannya untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Fungsi mau’idzah ini terdapat dalam 5 ayat, seperti firman Allah SWT :
وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ
    Artinya:” Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.”
5.    Sebagai busyra (بشرى) yaitu berita gembira bagi orang yang telah berbuat baik kepada Allah SWT dan sesama manusia. Fungsi busyra terdapat 8 ayat, seperti dalam firman Allah SWT :
طس تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ. هُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
    Artinya:” Thaa Siin (Surat) ini adalah ayat-ayat Al Qur'an, dan (ayat-ayat) Kitab yang menjelaskan, untuk menjadi petunjuk dan berita gembira untuk orang-orang yang beriman.”
6.    Sebagai tibyan (تبيان) atau mubin (مبين) yang berarti penjelasan atau yang menjelaskan terhadap segala sesuatu yang disampaikan Allah SWT :
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
        Artinya:” (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)
7.    Sebagai mushaddiq (مصدق) atau pembenar terhadap kitab yang datang sebelumnya, dalam hal ini adalah: Taurat, Zabur, dan Injil. Ini berarti bahwa Al-Quran memberikan pengakuan terhadap kebenaran Taurat, Zabur, dan Injil berasal dari Allah SWT (sebelum adanya perubahan terhadap isi kitab suci itu). Al-Quran sebagai mushaddiq terdapat 10 ayat, seperti firman Allah SWT :
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ
    Artinya:” Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.”(QS. Ali ‘Imran: 3)
8.    Sebagai nur (نور) atau cahaya yang akan menerangi kehidupan manusia dalam menempuh jalan menuju keselamatan. Dalam firman Allah SWT :
وَقَفَّيْنَا عَلَى آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَآتَيْنَاهُ الإنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ
        Artinya:” Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Maidah: 46)
9.    Sebagai tafsil (تفصيل) yaitu memberikan penjelasan secara rinci sehingga dapat di laksanakan sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT . seperti firman-Nya:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
    Artinya:” Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)
10.    Sebagai Syifau al-shudur (شفاء الصدور) atau obat bagi rohani yang sakit. Al-Quran untuk pengobat rohani yang sakit ini adalah dengan petunjuk yang terdapat di dalamnya; terdapat dalam 3 ayat Al-Quran, seperti dalam ayat sebagai berikut:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا
    Artinya:” Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.”
11.    Sebagai hakim (حكيم) yaitu sumber kebijaksanaan sebagaimana dalam firman Allah SWT :
تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِِ
        Artinya:” Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmah.”
                Jadi dari semua fungsi Al-Quran dapat dirangkum menjadi dua hal pokok yang penting, yaitu: pertama, sebagai “rahmat” dan yang kedua, sebagai “hudan” atau petunjuk.
                Sedangkan tujuan Al-Quran di turunkan secara berangsur-angsur yaitu:
1)    Untuk tatsbit al-fu’ad (تثبت الفؤاد) atau kemantapan hati yaitu ketenangan atau kepuasan rohani dalam menerima dan menjalankan Al-Quran, baik bagi Nabi sendiri maupun umatnya. Adapun kemantapan hati Nabi adalah bahwa turunnya Al-Quran merupakan hubungan langsung antara Nabi dengan tuhan. Sedangkan kemantapan hati bagi umat manusia bila dilihat dari segi hukum-hukum Allah SWT ialah revolusi budaya, karena mengubah suatu budaya hanya mungkin berjalan dengan baik jika dilakukan secara berangsur-angsur.
Contoh: hukum haramnya khamer, yang isinya ayat ini hanya menyatakan berdosa, yaitu:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Artinya:” Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.”(QS. Al-Baqarah: 219)
    Sesudah itu turun ayat yang melarang seorang melakukan shalat sesudah minum khamer dan masih dalam keadaan mabuk, yaitu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”   
    Setelah pelaksanaan hukum ini berjalan dengan baik, baru turun ayat Al-Quran secara jelas dan tegas melarang meminum khamer, yaitu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
2)    Alasan penahapan turunnya ayat Al-Quran adalah dengan tujuan untuk adanya tartil (membaca  dengan baik dan mudah). Karena Al-Quran turun kepada kaum yang ummi atau tidak mampu membaca dan menulis. Untuk itu, memudahkan umat dalam menghafal dan membacanya.
C.    Isi Kandungan Al-Quran
            Al-Quran yang di turunkan oleh Allah SWT secara garis besar mengandung pokok-pokok ajaran sebagai berikut:
a)    Petunjuk mengenai akidah yang harus di yakini oleh manusia. Seperti, iman kepada Allah SWT , malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan lain-lain.
b)    Petunjuk mengenai syari’ah yaitu jalan yang harus di ikuti manusia dalam berhubungan dengan Allah SWT dan dengan sesame manusia serta makhluk lainnya atau alam sekitarnya.
c)    Petunjuk tentang akhlak, mengenai yang baik dan buruk dalam kehidupan individual atau social.
d)    Kisah-kisah umat manusia di zaman lampau. Contoh QS. Saba’ : 15-17 diceritakan tentang nasib kaum saba’ yang hidup makmur.
e)    Memuat berita-berita zaman yang akan datang. Seperti dalam QS. Al-Haqqah: 13-16 tentang kehidupan akherat.
f)    Memuat benih dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan. Contoh QS. Az-Zumar: 6 tentang rahim ibu yang tiga lapis.
g)    Hukum yang berlaku di alam semesta yaitu sunnatullah, yang bersifat 1) pasti, 2) tetap dan 3) objektif. 
       
        Oleh karena itu, dapat di ambil kesimpulan bahwa Al-Quran adalah sumber agama sekaligus sumber ajaran islam. Posisinya sentral, bukan hanya dalam perkembangan dan pengembangan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sebagai inspirator, dan pemandu gerakan umat islam.


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.    Al-Quran adalah lafadz berbahasa arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dinukilkan secara mutawatir.
2.    Fungsi Al-Quran apabila di ambil secara garis hanya mengandung dua pokok yaitu: pertama, sebagai “rahmat” dan yang kedua, sebagai “hudan” atau petunjuk.
3.    Isi Al-Quran sebagai sumber agama dan ajaran islam memuat soal-soal pokok yang berkenaan dengan: a) Akidah, b) Syari’ah, c) Akhlak, d) Kisah-kisah Manusia  di Masa Lampau, e) Berita-berita Tentang Masa yang Akan Datang, f) Benih dan Prinsip Ilmu Pengetahuan dan g) Sunnatullah atau Hukum Allah Swt yang Berlaku di Alam Semesta.














DAFTAR PUSTAKA
v    Chalik, abd., siswanto, ali hasan. 2010. Pengantar Studi Islam. Surabaya: Koperstais IV Press.
v    Nasutin, khoiruddin. 2002. Pembidangan Ilmu dalam Studi Islam dan Kemungkinan Pendekatannya. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga.
v    Nata, abuddin. 2000. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
v    Syarifuddin, amir. 2009. Ushulul Fiqh. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
v    Yusuf, ali anwar. 2003. Studi Agama Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar